Mencoba Camcoder 3D yang ringkas dan ekonomis

Mudah-mudahan perangkat kamera 3D tidak selalu menjadi gadget yang merepotkan dan njelimet, tapi menjadi lebih praktis dan mudah dipakai oleh siapa saja, seperti camcoder 3D yang  tiba tanggal 2 November kemarin malam. Kamera ini adalah bonus dari pembelian TV LED3D 42″. Jadi sa’at ini ditulis, saya belum tahu pasti apakah dapat dibeli di toko-toko elektronik/kamera secara umum. Jika dilihat diweb resmi merek ini, harganya tidak lebih dari Rp 3 juta, info lebih detil pada web resminya. klik link ini DXG-5F9V 1080 3D

Bentuk dan ukuran fisik kamera video ini cukup ringkas dan nyaman digengam dan umumnya kamera video entry level yang tidak memiliki banyak tombol-tombol. Hal unik yang membedakan kamera video ini jika dibandingkan dengan kamera biasa adalah pada lensanya, yaitu terdapat dua lensa kembar dan juga Display Monitor 3,2″ sekaligus menjadi 3D viewer.Posisi kamera

Lensa kembar dapat diputar sehingga ukuran kamera menjadi lebih kompak sa’at disimpan. Kita dapat melihat sensasi gambar 3D di monitor tersebut tanpa memerlukan kaca mata 3D.

Bagi penggemar camcoder yang serius, tentu tidak banyak berharap dari setting  kamera ini, hampir semuanya otomatis. yang masih bisa diatur hanya EV kompensasi, ukuran gambar,  white balance  dan zoom.  Bagi yang terbiasa  memotret foto 3D dengan kamera kembar (dua kamera) akan terasa ‘kikuk’  juga karena stereobase kamera ini tidak dapat diubah-ubah. Sehingga untuk mendapatkan shooting 3D terbaik hanya dalam jangkauan medium shot (2 meter hingga 10 meter).

Secara teknis resolusi gambar adalah full HD atau 1080p. Jika ingin menghemat ruang SD card dapat diatur menjadi 720p atau disetting  lebih rendah lagi menjadi WVGA (848 x 480), Lensa dan sensor CMOS yang kecil  sehingga tidak cukup handal untuk mengambil gambar dalam kondisi kurang cahaya. Untuk setting optimal dan mengambil objek bergerak cepat maka pilihan 720p 60Hz adalah terbaik.

Hasil file foto atau movie berupa gambar 3D half SBS (side-by-side)  atau foto kiri-kanan berdampingan dengan rasio horizantal yang dimampatkan menjadi setengahnya. Format ini cukup universal dibaca kebanyakan display 3D  (TV 3D). Berikut ini hasil gambarnya capture 3D half SBS 1080.

Untuk kualitas film, kamera ini terdapat beberapa frame slip (mudah2an krn SD cardnya) . Contoh video 3D dapat dilihat di Youtube http://youtu.be/pgRxgGgPb38, (klik icon 3D di menu kanan bawah agar sesuai format 3D  yang anda diinginkan) . Video tersebut telah dikecilkan resolusinya dari aslinya 1080 menjadi 480.

Secara keseluruhan, kemampuan kamera ini lebih dari cukup jika tujuannya adalah kepraktisan ketika  mengabadikan kegiatan sehari-hari dalam 3D. Hasil 3D-nya pun sangat layak ditampilan pada TV L3D. Namun, jika anda ingin foto/gambar 3D  dengan variasi lebih luas (dari macro hingga landscape) maka memakai dua kamera adalah tetap cara yang terbaik.

3 Balasan ke Mencoba Camcoder 3D yang ringkas dan ekonomis

  1. rasheedkarami mengatakan:

    Saya punya Sony HDR TD10 3D. Hasil rekamannya tidak SBS kiri-kanan. Bisakah diconvert sehingga menjadi 3D SBS? Saya sudah coba pakai converter Pavtube dan Wondershare Video Converter, hasilnya memang SBS kiri-kanan, tapi gambarnya tidak punya kedalaman melainkan datar saja (3D palsu). Bapak punya saran? Terima kasih.

    • iful3d mengatakan:

      Terimakasih untuk pertanyaannya.

      Kemungkinan besar format yang dipakai Sony HDR TD10 3D adalah video 3D berformat “page-flip” (beberapa referensi menyebutkan format ini dengan sebutan “sequential”) artinya gambar kiri dan kanan ditampilkan secara bergantian dan berurutan (kiri kemudian kanan, kemudian kiri dan kanan dan seterusnya), Jadi format sequential berbeda dengan format SBS (gambar kiri dan kanan disimpan secara berdampingan dalam satu frame).

      Keuntungan dari format sequential adalah masing-masing gambar kiri ataupun kanan terpisah dengan frame yang mandiri, sehingga resolusi masing2 gambar (kiri dan kanan) benar-benar HD 1920 X 1080. Namun format ini sedikit lebih “rumit” dari pada format SBS.🙂 Sedangkan SBS lebih sederhana karena gambar kiri dan kanan terdapat dalam satu frame saja, namun yang dikorbankan adalah resolusi gambar. Seharusnya gambar kiri + kanan HD berdampingan adalah (1920×2) X 1080, akan tetapi untuk menghemat bandwidth dan kepraktisan maka resolusi horizontal dikompres (ditekan) agar tetap 1920.

      Jadi mengubah format video sequential menjadi SBS akan mengorbankan resolusi horizontalnya.

      Mohon ma’af, untuk sa’at ini saya belum dapat memberikan saran tentang cara mengubah format sequential menjadi SBS.

      Informasi lebih lanjut mengenai format video 3D dapat dilihat pada
      http://www.practical-home-theater-guide.com/3d-tv-formats.html

      • rasheedkarami mengatakan:

        Terima kasih pak. Keterangan bpk sangat bermanfaat. Saya akan terus belajar dan cari tau. Memang saya bandingkan dengan hasil dari Sony Bloggie 3d yang langsung format SBS ki-ka, hasil Sony HDR TD10 jauh lebih bagus. Sekali lagi terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: