Sekilas Cara Kerja Dolby 3D

Penampilan kinerja Dolby 3D yg dipakai pada film Journey to The Center of The Earth – 3D’ di gedung  bioskop Plaza Senayan XXI sangatlah menyakinkan. Gambar 3D yg stabil, detil, jernih dan tidak membuat sakit kepala atau pusing. Ngga’ ada salahnya artikel kali ini kita mengupas cara kerja Dolby 3D.

Sebelum lanjut membahas cara kerja Dolby 3D ada baiknya meninjau  perkembangan beberapa teknik menampilkan film 3D di gedung bioskop.

Anaglyph
Teknik yg paling awal dan sederhana ini cukup sukses diawal-awal zaman keemasan film 3D. Hanya dng kaca mata merah-sian (biru muda), sdh dpt memfilter gambar kiri dan kanan pada layar putih di gedung bioskop. Teknik ini juga tidak memerlukan projektor khusus, cukup hanya satu projektor film (celuloid) ataupun Digital Cinema sudah bisa memainkan film 3D. Hal ini dimungkinkan karena materi film lah yg berformat anaglyph. Disamping kemudahannya, memang ada kekurangannya yaitu warna film menjadi terdistorsi khususnya pada gambar disparity yaitu gambar rangkap 2 yg terpisah krn adanya beda paralax akan berwarna merah dan cyan  berdampingan. Warna yg timpang tsb membuat penonton tidak cukup  nyaman untuk menonton film panjang, dimana mata kiri selalu melihat dng kaca mata filter merah dan kanan dng kaca mata sian. Oleh sebab itu, pada film spt ‘Spykid 3D’ ada jeda adegan non-3D kurang lebih setalah 15menit pertunjukkan 3D agar, mata penonton bisa istirahat.

Polarisazed (polarisasi)
Tenik ini muncul di awal thn 50an, dng prisip bahwa sinar bisa diatur rambatannya dng sudut kutub tertentu. Sehingga dua gambar stereoskopis bisa difilter dng kutub yg berbeda. Umumnya mata kiri dng kutub 0 derajat dan kanan 90 derajat (ada juga yg -45 dan 45). Gambar kiri dan kanan bertumpang tindih pada layar akan disaring dng sempurna sesuai sudut kutub pada kacamata yg dikenakan penonton. Teknik polarisasi ini membuat penonton merasa nyaman krn film disajikan dalam tata warna penuh. Adegan-adegan film 3D menjadi lebih nyata. Hanya saja teknik ini merepotkan atau memerlukan biaya tambahan bagi pihak bioskop. Teknik mengharuskan memakai dua projetor kembar (baik yg Digital Cinema ataupun analog -film celuloid) dan layarnya harus khusus pula, yaitu silver screen. Ini dimaksud agar sinar terpolarisasi tsb sampai sempurna ke kacamata penonton. Repotnya lagi, setelah bioskop dibuat untuk 3D selanjutnya tdak cocok lagi untuk memutar film biasa (2D), krn layar perak tadi menjadi tidak nyaman. Biasanya teknik polarisasi ini sering dipakai pada gedung bioskop yg hanya khusus memutar film 3D saja.  Film-film dokumenter atau hiburan pendek spt bisa anda saksikan Biokop 4D di Ancol atau The Jungle (Bogor). Tentu teknik ini akan menambah biaya yg besar pada gedung bioskop biasa untuk film-film panjang. Apalagi film 2D masih lebih dominan daripada 3D. Sehingga investasi di bioskop film biasa menjadi mubazir.

Liquid Crystal Display (LCD) Shutter
Teknik ini lebih cocok hanya untuk Digital Cinema. Dan tidak perlu layar perak atau dua projector selama pemutaran film 3D. Hal ini memungkinkan karena gambar kiri dan kanan ditampilkan tidak secara bersamaan spt teknik polarisasi diatas, melainkan bergantian sangat cepat 144 frame/detik. Agar mata kiri hanya menangkap gambar informasi kiri, diperlukan kacamata LCD shutter yg akan berkedip bergantian untk memblokir mata kanan dan kiri bergantian sehingga serempak dng tampilan gambar kiri-kanan di layar bioskop. Hasilnya cukup menyakinkan, film 3D mampu tampil dng warna penuh seperti halnya teknik polarisasi. Hambatan dari teknik ini adalah biaya kacamata yg menjadi mahal dan memerlukan rangkain elektronik yg aktif (memerlukan bettery, kabel sycn atau freq radio) pada setiap kacamata yg dipakai penonton. Dan kekurangan lainnya yg sering terjadi, teknik ini tidak handal untuk gedung bioskop dng kapasitas lebih dari 200 orang. Selain biaya mahal juga tidak bisa menjamin semua kaca mata tidak kehabisan battery atau kedipannya tidak sinkron dng tampilan gambar di layar. Yg jelas kaca mata LCD tidak seringan dan semurah anaglyph atau polarisasi di atas.

Teknik Terkini
Ada 3 metode yg menjanjikan untuk dipakai pada film-film 3D terkini dan akan datang, yaitu XpanD, RealD dan Dolby 3D. Teknik yg terkini tsb bersaing untuk dipakai secara umum pada film cerita 3D. Semuanya berusaha mengambil keuntungan ke tiga teknik terdahulu di atas dan juga berusaha menghilangkan kekurangan-kekurangannya. Memang ketiga metode 3D terkini sangat diuntungkan dng perkembang perbioskopan ke arah Digital Cinema. Nontonlah sebuah film dari Digital Cinema pada minggu terakhir film tsb diputar, kita tidak akan menemukan penurunan mutu warna atau garis-garis goresan krn film telah diputar puluhan kali di gedung bioskop. Misalkan, satu hari sebuah judul film umumnya diputar 5 kali pertujukan, bila film box-office akan bertahan dibioskop 21 hari, maka pada film celuloid akan kena lampu dan  projector’s sprocket sebanyak 100-an lebih. Biasanya film celuloid mulai kelihat garis2 goresan ketika diputar untuk ke 30 kalinya. Hal ini tdk akan ditemukan pada Digital Cinema.

Untuk artikel ini hanya membahas Dolby 3D. Selain itu, RealD ternyata masih memakai circulary polarization glasses artiya masih perlu layar khusus dan Xpand tetap menghandalkan Active Glasses. Oleh Krn itu banyak gedung biokop di dunia ‘senang’ memilih teknik Dolby 3D pada gedung bioskop yg sdh ada. Dolby 3D tidak memerlukan layar perak seperti halnya teknik polarisasi. Layar putih yg terdapat pada umumnya pada gedung biokop masih tetap terpakai. Untungnya lagi, cukup memerlukan satu Digital Cinema Projector saja, tentu yg telah dimodifikasi sedikit. Selanjutnya projektor hasil modifikasi masih bisa terpakai lagi untuk film 2D biasa. Tidak perlu kaca mata aktif, jadi tetap kacamata pasif mirip kacamata anaglyph atau polarisasi yg tidak ada battery atau rangkaian elektronik pada kacamata. Alhasil kacamata Dolby 3D tetap ringan.

Cara Kerja Dolby 3D
Dolby 3D memakai teknik ‘wavelenght triplet‘ yg asalnya dikembangkan oleh perusahaan Infitec dari Jerman. Di dalam projector Digital Cinema, umumnya memakai DLP dng tiga warna primer, yaitu merah-hijau-biru atau sering disingkat dng RGB (Red, Green, Blue). Dengan Dolby 3D, ketiga panjang gelombang (pada masing2 warna dasar) dibagi lagi menjadi dua. Sehingga terdapat warna merah utama dan merah dng panjang gelombang sedikit bergeser di bawah merah yg utama. Begitu juga dng yg biru dan hijau memiliki ‘kembarannya’ dng panjang gelombang sedikit dibawah. (lihat gambar)

pembagian panjang gelombang cahaya pada RGB

pembagian panjang gelombang cahaya pada RGB

Nah, warna RGB yg utama akan menampilkan gambar-kanan sedangkan RGB yg sedikit dibawah panjang gelombang RGB utama akan menampilkan gambar kiri. Selanjutnya setelah diproyeksi ke layar putih yg  pada umumnya di gedung2 bioskop, penonton akan memakai kacamata khusus. Dimana filter ini kacamata yg kiri sesuai dng panjang gelombangnya.

Karena Dobly 3D memakai satu projektor saja, maka frame gambar kiri dan kanan ditampil bergantian. Jangan kuatir akan terlihat kedipan selama menonton film 3D, karena pergantian frame (frame rate) sangat cepat yaitu 144 frame/detik atau masing gambar kiri atau kanan mendapat 72 frame/detik (bandingkan dng projector celuloid – 24 frame/detik).  Dan urutan gambar kiri dan kanan yg sangat tinggi itu hanya terjadi di sisi projector saja, tidak pada kacamata penonton. Ingat, kacamata penonton tetap bersifat pasif.

Agar saat gambar kiri menghasilkan panjang gelombang yg sedikit begeser, maka projector memerlukan  modifikasi kecil dng menambahkan filter berbentuk cakram. Cakram ini berputar persis di depan lampu projektor sebelum ‘image device’- DLP. Cakram terdiri dari dua filter warna yg akan mempengaruhi panjang gelombang cahaya putih dari lampu projector. Rotasi filter cakram akan diselaraskan dng tampilan gambar kiri-kanan yg bergantian di DLP. (Lihat gambar)
projectordolby 3D
Dengan teknik Dolby 3D, pemilik bioskop (yg sdh ber-Digital CInema, tentunya), tidak perlu mengubah layar atau menambah projector hanya sekedar untuk memutar film 3D saja. Bila ingin memutar kembali film 2D, cukup melepas atau menggeser (secara elektronik) filter carkram tsb dari lampu projektor.

Jika kita amati cara kerja dolby 3D:
– mirip gabungan antara teknik anaglyph (yg memanfaatkan spetrum warna) dan teknik LCD shutter (yg ingin memanfaatkan satu projector saja). Namun berbeda dng anaglyph, disparity image yaitu gambar rangkap 2 yg terpisah krn adanya beda paralax akan berwarna merah dan cyan  berdampingan, sehingga dng anaglyph membuat warna film selama pertunjukan 3D menjadi terdistorsi. Hal ini tidak terjadi di Dolby 3D, krn masing2 mata tetap mendapatkan spektrum warna yg utuh & lengkap.
– prosess pengiriman gambar stereoskopis ke penonton terjadi pada proses akhir presentasi film, yaitu di projektor gedung bioskop. Artinya, film/gambar 3D yg memuat informasi stereoskopik (kiri & kanan) apasaja dpt ditampil dng Dolby 3D. Ini juga meringankan si pembuat film 3D yg tidak perlu memikirkan teknik akhir penyajian tiga dimensi pada penonton.

Kaca mata Dolby 3D

Kacamata ini memang tidak sesederhana bila dibandingkan dng kacamata anaglyph ataupun kacamata polarisasi. Dilapisi dng beberapa lapisan (coating) dng teknik yg sangat presisi dan agar tidak terjadi bocor dan memfilter sesuai panjang gelombang cahaya yg diproduksi oleh projektor.  Bila dilihat sepintas, coating-nya mirip lensa kamera (emas keperakan), dan tidak segelap pada kacamata hitam (sun glasses).

Kacamata pasif dan bening

Kacamata pasif dan bening

Kita amati ketika memakai kacamata dolby 3D, cobalah memejamkan mata kanan maka mata kiri akan melihat gambar (kiri) yg sedikit lebih pucat dan berwarna dingin. Sebaliknya bila kita memejamkan mata kiri, maka gambar kanan lebih terlihat saturated dan berwarna lebih hangat. Namum perbedaan tsb sangat halus. Boleh dikatakan hampir tidak terasa pada beberapa orang. Tapi hasil penyaringan kacamata sangat mengagumkan. Ketika saya menonton Journey to The Center of The Earth – 3D (….hingga 2x lho) baik pada adegan gelap dalam gua atau cerah-kontras pada adegan siang hari, tidak pernah saya jumpai ghosting image bahkan saat gambar memiliki area yg gelap dan terang sangat mencolok sekalipun. Juga pada saat lampu ruangan bioskop dinyalakan pada akhir film (ending credit title – biasanya penonton sdh berjalan menuju pintu keluar), kacamata ini masih bisa memfilter dng baik dan sensasi 3D tetap tampil sempurna dan stabil tanpa bayangan bocor antara gambar kiri dan kanan, tulisan nama-nama aktor, aktris dan crew film masih tampil melayang mendekati penonton. ..hmm hal yg sulit dicapai pada sistem anaglyph.

- referensi cara kerja Dolby 3D dari  SINI
– untuk infromasi lebih jauh tentang Dolby 3D dpt dilihat di SINI

Memang Kacamata Dolby 3D lebih mahal (harganya sekitar $ 40) dari pada kaca mata anaglyph ataupun polarized(sekitar $1 hingga $5) tetapi tidak semahal LCD shutter glasses (lebih dari $ 100), krn kaca mata Dolby 3D tetap pasif alias tidak ada rangkaian elektroniknya. Namun masih mahal untuk diberikan secara cuma-cuma kepada penonton usai pertunjukan. Makanya gedung biokop dan kacamata dilengkapi sensor anti-curi (he he he), alaram di pintu akan berbunyi bila kacamata dibawa keluar dari ruang theater bahkan untuk ke WC sekalipun.

Kacamata dilengkapi anti-curi dng bingkai plastik dan filter kaca

Kacamata dilengkapi anti-curi dng bingkai plastik dan filter kaca.

Bila Dolby 3D menjadi umum dikemudian hari, diharapkan kacamata ini dapat dibeli bebas. Penonton bisa memiliki dan membawa sendiri kacamatanya ke gedung bioskop bila ingin menonton film 3D. Ya, seperti kita membawa kacamata renang sendiri bila mau berenang ke kolam renang, bukan.

salam

About these ads

40 Balasan ke Sekilas Cara Kerja Dolby 3D

  1. Akbar mengatakan:

    Mas, artikelnya bagus. Boleh aq copy ya…

    Makasih

  2. iful3d mengatakan:

    boleh-boleh aja.. :)
    kalo mau di ‘publish’ ke media…kita diberi khabar ya, thanks.

  3. dendisukendar mengatakan:

    mas klo beli kacamata 3D di bogor tau ga mas di mana

  4. iful3d mengatakan:

    wah..maaf…saya kurang tau daerah Bogor. :)
    BTW, kalo yg dimaksud kaca mata 3D anaglyph bisa dibuat sediri koq.

  5. Benny Kurniawan mengatakan:

    Wah, Artikelnya keren banget mas, Menginspirasi.

    Saya animator, baru mulai kepikiran coba bikin sendiri 3D animasi yang nontonnya pake kcamata anaglyph.

    Bisa minta alamat e-mail atau YM mas Iful nggak? Pengen ngobrol n nanya lebih lanjut aja tentang Stereoskop.

    Thanks

  6. iful3d mengatakan:

    Terima kasih, Mas Benny.
    e-mailnya sudah saya berikan lewat e-mail, ya.

    Seru juga tuh,..dan saya senang dan mendukung, jika mas Benny berencana buat animasi yg 3Dimensi.

  7. [...] pembahasan bioskop digital (Digital Cinema) tiga dimensi (3D) pada  artikel sebelumnya ‘Cara kerja Dolby 3D‘.  Tidak perlu lagi lah saya tulis sejarah film 3D di bioskop dan sistem yang dipakai.  [...]

  8. ciputra mengatakan:

    artikel yang bagus, boleh saya tambah? Kacamata dolby harganya sekarang sudah kira2 25USD, sedangkan kacamata realD gratis diberikan dari realD dalam kontrak mereka, the glasses still belongs to realD, ia hanya disewakan. Untuk Xpand yang lebih mahal kacamatanya karena ada battery tapi tidak mencapai harga sampai 100usd, mungkin yang anda maksud itu kaca mata 3d dari stereographics yang biasanya dipakai di kalangan researcher. Yang paling murah kacamata 3d dari masterimage,saking murahnya bisa diberikan cuma2 kepada penonton :D

    • iful3d mengatakan:

      Terima kasih untuk update infonya.
      Mudah2 cuma ada dua sistem kacamata 3D (dolby3D & RealD), jadi penonton bisa punya sendiri kacamata 3D dng model dan ukuran kacamata yg sesuai, nyaman dan hyginienis, tentunya :)

      Hmm…jadi kepikiran. Siapa tau, nantinya bakal ada ‘contact lens’ untuk RealD atau Dolby3D. =D
      he he nonton 3D “tanpa” kaca mata alias pake ‘contact lens’

  9. ciputra mengatakan:

    bung iful3d, mmmm 3d without glasses, coba cari di youtube ‘johnnylee head tracking using wii remote’ nahhh itu baru cool, where heading that direction i hope. You can checkout my facebook photos too for some 3d setups i did for cinemas in the region

    • iful3d mengatakan:

      …ini keren!!. thanks untuk info-nya, ya.
      – Hanya saja perbedaan sudut pandang terjadi jika kepala pengamat bergeser, jika pengamat melihat dlm posisi statis…..maka gambar tetap tidak memberikan sensasi kedalaman.
      – ehmm..apakah head tracking bisa mengikuti kepala dari pengamat ke-2 ke-3 dst? Krn jika masing2 pengamat bergeser tidak searah tentu tampilan dilayar hanya mampu mengikuti satu referensi saja, bukan. CMIIAW

  10. [...] Teknologi yang digunakan oleh GSC MidValley adalah dolby 3D menurut saya. Karena dilihat dari bentuk kacamata 3Dnya, serta harga setiap kacamatanya adalah RM150 (sesuai dengan sumber harga  disini dan tentang Dolby 3D). [...]

  11. badung mengatakan:

    Mas, izin copas ya, menarik banget blognya.. Spektakuler!!

  12. Real 3d mengatakan:

    Wow Artikelnya J=Keren…

    Tapi ada yang jual Kacamata 3d nya dolby/ real d gak ?
    Tks

    • iful3d mengatakan:

      Terima kasih, telah berkujung.

      Untuk Real D
      Sudah ada yg dijual terpisah yaitu model clip-on, dikhususkan untuk orang yg berkacamata, jd cukup diklip ke kacamata sehari-hari.
      Silahkan datang ke bioskop Blitz Megaplex. Saya sendiri beli satu di Blitz – Pasific Place, (harga 60rb jika member Blizt).
      contohnya dapat dilihat difacebook saya

      Untuk Dolby3D,
      Karena teknologi kacamata Dolby 3D tidak sesimple cara kerjanya, karena coating kacamata Dolby 3D lebih mahal dan jlimet daripda kacamata realD -> circular polarized, jadi belum ada yg menjual kacamata Dolby3D secara terpisah.

  13. Yusuf Diharnanto mengatakan:

    Untuk harga kacamata 3D dolby berapa ya ? bisa pesan gak ? saya butuh 100 pc utk 3D cinema. Ditunggu infonya, Thanks.

  14. Harry Abriyanto mengatakan:

    Mas, ada kemungkinan tidak bila prinsip kerja dolby 3D ini di terapkan di LCD TV / PLASMA TV biasa ? dengan asumsi format material FIlm nya 3D, dan kita memiliki Kaca mata itu sendiri, jikalau ada demo movie nya mungkin bisa minta referensiya.. thx

    • iful3d mengatakan:

      Mungkin saat ini tidak bisa (bukan tidak mungkin lho).
      Lagipula TV 3D LCD/Plasma sekarang dikembangkan untuk pemakaian kacamata LCD shutter. (spt yg biasa kita temui pada brand TV: Samsung, LG, Sony panasonic). Yaitu kacamata lah yang “active” memilah gambar kiri dan kanan secara bergantian dalam 120 Hz. atau 120 kedipan per detik.

      Format materi film 3D tidak tegantung perangkat displaynya. Hingga sekarang, konsensusnya,film 3D dari media digital adalah gambar kiri dan kanan ditampilkan berurutan/bergantian dlm rentang 120 Hz.

      Jadi:
      – Jika ditampilkan di LCD/Plasma 3D (umumnya dari bluray disc) maka lebih effetif dng kacamata shutter.
      – Jika ditampilkan di bioskop dolby 3D maka, kacamata Dolby lah(spectrum base) yg dipakai.
      – Jika ditampilkan di bioskop RealD maka kacamta polarisasi sirkular lah yg dipakai.

  15. Andika mengatakan:

    Mas, tulisannya bagus bgt loh … saya numpang kutip yh buat share lg ke teman2 yang lain … makasih

    • iful3d mengatakan:

      Terima kasih, Andika.

      Dengan senang hati, silahkan dikutip. Mudah2an jadi banyak penggemar foto2 3D. dan tentunya juga banyak yang tertarik untuk membuat foto2 3D sendiri.

      salam

  16. Andika mengatakan:

    mas … numpang kutip lg yah artikelnya …

  17. Siswo mengatakan:

    Dh,
    Photo-photo 3D nya bagus sekali, boleh dong diajarin cara bikinnya, tq so much.

    • iful3d mengatakan:

      Halo Siswo,
      Terima kasih telah melihat blog ini.
      Klik aja di tab tutorial pada blog ini. Penjelasannya cukup lengkap untuk membuat sendiri foto-foto 3D. Namun, Jika ada pertanyaan jangan sungkan2 email ya.

      salam

  18. Shinta Faramita mengatakan:

    halo selamat pagi mas iful3d..saya sangat tertarik dengan kacamata 3d dimensi, hingga pada saat ini saya memutuskan kacamata 3d sebagai judul seminar mata kuliah saya. nah saya boleh minta referensi lengkapnya ga ? apakah dalam pemaparan kacamata 3d ini ada kaitannya dengan sifat-sifat cahaya? (difraksi,refarksi,polarisasi)?
    thanks ya…ditungu balasannya :)
    shinta

    • iful3d mengatakan:

      Halo Shinta,

      Kalo boleh tau, sistem yg mana yg akan dibahas? Masing2 sistem (Real D, Dolby 3D, Anaglyph, Shutter glass) memiliki tekniknya sendiri-sendiri.

      Namun kacamata punya fungsi yg sama yaitu memilah gambar steroskopis dari layar, agar masing2 mata menerima gambar yg sesuai dng sudut pandang mata kiri dan kanan. Itu saja. Anyway, kalo mau diskusi lebih lanjut bisa japri ke iful.spock@startrek.or.id

      Semoga sukses seminarnya.

      salam

  19. Adi mengatakan:

    mas mau nanya. apakah kacamata dolby3D bisa digunakan untuk menonton film 3d dengan teknik Anaglyph dan Polarisazed?

    Saya menggunakan power dvd11 di situ ada converter dari 2D ke 3D. ketika di convert di gambarnya ada dua warna terpisah (merah dan biru) kalo dilihat tanpa kacamata 3d. jadi jenis kacamata apa yang saya pakai unuk bisa menikmati film 3d.

    Mohon penjelasannya. Terima kasih.

    • iful3d mengatakan:

      kutipan:apakah kacamata dolby3D bisa digunakan untuk menonton film 3d dengan teknik Anaglyph dan Polarisazed?
      –> dari cara kerja sudah berbeda, jadi tidak bisa dipakai bersilang, maksudnya: kacamata dolby3D khusus hanya untuk bioskop dengan system yang terpasang adalah dengan dolby3D juga, dan tidak bisa dipakai untuk menonton di bioskop dengan sistem yang lain atau nonton film 3D anaglyph ataupun polarized.

      untuk hasil conversi –> merah & hijau, maka kaca mata yg dipakai adalah kacamata 3D anagyph yg memiliki filter merah hijau juga.

  20. indio mengatakan:

    mas mau nanya dong, kalo misalnya kita pake software iz3d yang 3d di komputer itu, kan jadi 3d ya bisa pake monitor apa aja, itu misalnya kita nonton film, itu beda gak sih sama yang kayak di xxi gitu (gambar jauh masuk kedalam, kaya ada ruang dalam layar) atau cuma gambarnya keluar2 aja gitu?

    • iful3d mengatakan:

      hmm…iz3d adalah viewer untuk ‘games’ sehingga program game agar dapat ditampikan menjadi 3D (hanya pada game tertentu saja lho), sedangkan film (movie) adalah hal yg berbeda mediumnya.

      Untuk pemahaman keluar atau masuk kedalam dari suatu gambar 3D, sebaik mereview tab tutorial di web ini.

  21. amal jaya mengatakan:

    wow artikelnya menakjubkan keren banget mas bro,
    tapi aq maw nanya, bgai mana jika penenton hanya dapat melihat dengan satu mata, apkh 3D masih jelas???

    • iful3d mengatakan:

      Thanks, Mas Amal, telah membaca artikel ini.

      Jika kita melihat kembali cara kerja gambar 3D stereoskopis, yaitu sensasi ‘kedalaman’ terbentuk karena otak kita mengolah informasi dari dua gambar yg memiliki perbedaan sudut pandang, maka secara singkat, orang yg mempunyai masalah (buta) pada salah satu mata, tidak dapat menikmati sensasi ‘kedalaman’ dari gambar 3D .

      http://gambar3dimensi.wordpress.com/about/prinsip-sederhana-foto-stereoskop/

      Tambahan,
      seorang yg tiba2 kehilangan penglihatan salah satu matanya, dia akan memerlukan waktu untuk beradaptasi agar dapat meraih/memegang atau menangkap benda2 disekitarnya. Secara alamiah (survival), dia akan menggeserkan kepalanya sedikit agar dapat melihat perbedaan/pergeseran sudut pandang dari benda sekitarnya, mana yg lebih dekat dan mana yg lebih jauh.

  22. arif mengatakan:

    bagus infonya mas, saya pernah baca artikel 3d punya orang luar, katanya monitor crt yang punya refrehs rate 120 Hz kompatibel sama NVidia 3DVision karena sama-sama 120Hz sehingga bisa dipakai nonton film 3d menurut mas gimana?

  23. Dony mengatakan:

    mas iful3d, mau tanya.. saya kan pke software 3D KMPlayer nih.. film 3Dnya saya buat pilihan yang berwarna.. bkan yg merah-hijau ataupun merah-biru..
    tapi jadi biru-kuning..
    jadi saya harus pke kacamata 3D yg jenis apa mas ?
    dan klo buat sendiri bisa tidak ?

  24. andik julianto mengatakan:

    mas< tanya neh, kenapa aku download film 3d yang ada di youtobe setelah aku copy dan aku putar di player bluray jg tv 3d ngga mau efek 3d nya ngga keluar ?, kacamata 3d bawaan tv samsung 3d, tolong kirim jawabanya ke email sy y mas, sy tunggu beneran, email :nadjwa_nida@yahoo.co.id

  25. aina mengatakan:

    mas, punya artikel tentang cara kerja device 3D tanpa kacamata ga mas? kira kira perbedaan cara kerjanya apa tu mas dengan 2D ? knapa bias ada efek 3D ya mas?(apakah efek depan belakang?)

    • iful3d mengatakan:

      Umumnya 3D tanpa kacamata masih memakai filter prisma lenticular seperti postcard 3D.
      Keterbatasnya: efek kedalamannya hanya dapat kita lihat jika sudut yang tepat (sweet spot). JIka melihat pada sudut yg tidak pas, gambar kembali menjadi berbayang (ghosting). Teknik ini disebut autostereoscopy (info di wiki ttg ini: http://en.wikipedia.org/wiki/Autostereoscopy)

      Prisma Lenticular akan “mengarahkan” informasi untuk masing2 mata pengamat (mata kiri dan mata kanan) sesuai dengan sudut pandang terhadap “display device” tsb.

      Kenapa ada efek 3D?
      Karena ada beda sudut pandang yang diterima oleh kedua mata kita. Otak kita lah yg mengolah informasi perbedaan-perspektif menjadi sensasi ‘kedalaman’.
      Mohon disimak kembali ke http://gambar3dimensi.wordpress.com/about/prinsip-sederhana-foto-stereoskop/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: