Sekilas Tentang Sistem RealD 3D,

Tulisan ini melanjutkan pembahasan bioskop digital (Digital Cinema) tiga dimensi (3D) pada  artikel sebelumnya ‘Cara kerja Dolby 3D‘.  Tidak perlu lagi lah saya tulis sejarah film 3D di bioskop dan sistem yang dipakai.  Semuanya telah disinggung di artikel tersebut.

Setelah dua kali nonton film 3D dengan RealD, yaitu film My Bloody Valentine (Golden Village – Singapore) dan Monsters Vs Aliens (Bilztmagaplex – Mall Of Indonesia),  dan dua kali nonton film 3D dengan Dolby 3D (Bolt dan Jouney to The Center of The Earth, yang kedua-duanya di XXI – Plaza Senayan). Maka artikel ini akan memperbandingkan garis besar sistem Dolby 3D dan Real D 3D

RealD 3D, sebagai salah satu teknik peyajian film 3D digital saat ini, selain Dolby 3D  dan XpanD.  Kesamaan antara Dolby 3D dan RealD, adalah sama-sama memanfaatkan kepraktisan dari Digital Cinema. Gambar kiri dan kanan ditampikan hanya dng satu proyektor digital saja. Artinya gambar kiri dan kanan ditampilkan secara bergantian dengan frame rate yg sangat tinggi: 72 frame per detik! pada masing2 gambar kiri dan kanan. Tentu kepraktisan ini, tetap menjadi hambatan di Indonesia, krn hanya 4 gedung bioskop (saat artikel ini ditulis) yg dilengkapi dengan Digital Cinema Projector.  Kesamaan yang lain antara Dolby 3D dan RealD 3D adalah penonton memakai kacamata pasif (tidak ada rangkaian elektronik atau battery di dalam kacamata) sehingga kacamata menjadi ringan dipakai oleh penonton.

Perbedaan antara Dolby 3D dan RealD 3D yaitu:

  • Jika Dolby 3D memakai spektrum warna RGB yg berbeda antara mata kiri dan kanan (lihat artikel Dolby 3D di sini), sedangkan RealD memakai perbedaan kutub rambat cahaya (light  polarization).
  • Modifikasi proyektor digital pada Dolby 3D dengan memasang cakram spektrum warna persis di depan lampu proyektor, sedangkan RealD hanya memasang filter polarisasi (LCD bases) di depan lensa proyektor.  Soal modifikasi projektor, kelihatan lebih ‘aman’ pada sistem RealD dibandingkan pada sistem Dolby 3D yang harus membuka casing badan proyektor.
    RealD - Pemasangan filter polarisasi berada diluar badan proyektor

    RealD - Pemasangan filter polarisasi berada diluar badan proyektor

    Dolby 3D, filter spektrum warna diletakkan di dalam badan proyektor

    Dolby 3D, filter spektrum warna diletakkan di dalam badan proyektor

  • Kaca mata RealD adalah kacamata Circulary Polarized.  Lebih mudah pembuatannya dari pada Dolby 3D. Sehingga kaca mata RealD tidak semahal Dolby3D. Berbeda dng kacamata polarisasi normal, dengan circular Polarized memungkin penonton bebas memiringkan kepalanya tanpa takut terjadi gambar berbayang(ghosting).  Hal ini sering ditemukan pada sistem polarisasi tegak lurus.  Informasi tambahan, Circulary Polarized yang berada di depan lensa proyektor diubah secara elektronik (LCD shutter) sesuai informasi gambar yang ditampilkan oleh proyektor. Berbeda dng Dolby 3D, pegantian spektrum kiri-kanan dilakukan secara mekanik (cakram putar).
  • Karena RealD memakai sistem polarisasi cahaya, sistem RealD menuntut layar khusus, yaitu Silver Screen.  Layar putih biasa, tidak mampu merefleksikan rambatan cahaya yang telah terkutub dari proyektor. Sedangkan Dolby3D tidak menuntut layar khusus, sehingga bioskop yang enggan mengubah layar yang sudah ada, akan memilih Dolby 3D.  Layar perak yang dipakai RealD ternyata tidak seperti layar perak pada bioskop 3D polarisasi yang kita kenal.  Layar perak RealD masih bisa dipakai juga untuk film biasa tanpa terlihat terlalu mengkilap atau silau pada sudut tertentu.

Informasi lebih lanjut mengenai RealD dpt dilihat di Digital Cinema Forum (atau klik tulisan Matt Cowan dalam pdf)  dan RealD

13 Balasan ke Sekilas Tentang Sistem RealD 3D,

  1. nicebleed mengatakan:

    hmm..berarti lebih nyaman realD 3d doongss..
    saya baru nyobain blitz GI ntn monster, manstaaabb😀

  2. iful3d mengatakan:

    Sebenarnya saya mau nambah info di artikel ini ttg kenyamanan dari kedua sistem. Namun, karena tidak ada artikel/statistik yg mendukung jadi tidak ditulis.

    Secara subyektif (IMHO, lho) RealD memang bagus di warna, sangat natural. Tetaapi, saya masih menemukan ‘ghosting’ pada adegan2 high contrast, misal pada cahaya putih dng background hitam. Sedangkan Dolby3D ‘ghosting’ sama sekali tdk terlihat (atau mungkin saya kurang jeli). Sayangnya, Dolby3D memiliki kekurangan pada warna yg tidak natural (agak berlebihan saturasinya).

    Semua kekurangan pada kedua sistem hanya terlihat, bila sengaja di-cari2😀 ,bagi yg sdh asyik dng jalan cerita film, kekurangan tsb terlupakan juga sih.

  3. budy mengatakan:

    pak peralatan 3d ini beli dimana ya?tolong diberitahu saya pingin membantun sistem cinema 3d thx

  4. budi mengatakan:

    mas, salam kenal

    cukupkah projector berteknologi DLP dengan 2500 ansilumens meneruskan gambar ( film 3D ) dari laptop?

    terima kasih,

    salam,

    • iful3d mengatakan:

      Yang perlu dipertimbangkan gambar 3D dng projector DLP bukanlah lumens-nya melainkan:

      – fresh rate, umumnya diatas 120 Hz, jika yg ingin dipakai gambar 3D dng sistem page flip. (gambar kiri & kanan bergantian)

      – namun jika ingin menonton 3D anaglyph, color gamut menjadi hal yg penting. Anaglyph, ternyata sangat ‘bersih’ jika dilihat dng projector LCD daripada DLP (yg entry level tentunya).

      Nilai lumens berkaitan dng besar layar, cahaya ruang dan tentu keluasan ruangan (yang terakhir terkait dng jumlah penonton juga)

      salam

      • budi mengatakan:

        wah jadi bimbang nich mas,
        tapi sebelumnya terima kasih tuk infonya.

        begini mas, kami berniat membuat ruang kelas pembelajaran di sekolah yg nantinya akan di isi (content film3D)( ruang multi media )

        perangkat yg sdh kami miliki media player bluray soni 3D, jadi seharusnya saya pkai yg teknologi DLP atw LCD tuk projectornya, dgn asumsi film yg akan kami tayangkan juga film yg byk d pasaran ( tema pendidikan ) tentunya.

        terima kasih sekali lagi tuk sebelum dan sesudahnya.

  5. budi mengatakan:

    wah jadi bimbang nich mas,
    tapi sebelumnya terima kasih tuk infonya.

    saya itu berniat membuat ruang bioskop di sekolah yg nantinya akan di isi (content film3D)

    perangkat yg sdh kami miliki media player bluray soni 3D, jadi seharusnya saya pkai yg teknologi DLP atw LCD tuk projectornya, dgn asumsi film yg akan kami tayangkan juga film yg byk d pasaran ( tema pendidikan ) tentunya.

    terima kasih sekali lagi tuk sebelum dan sesudahnya.

    • iful3d mengatakan:

      Halo mas Budi,

      Maaf baru bisa bales, jika sdh punya player bluray 3D Sony dan ingin memanfaatkan projector DLP 3D ready, Selanjutnya mesti menambahkan 3D adaptor yang dikoneksikan antara keluaran HDMI Bluray Player dan masukan HDMI pada DLP projector.

      Alasannya, karena versi HDMI antara keluaran player Bluray dan Projector 3D Ready DLP tidak sama versi. Tentu kacamata 3D nya adalah LCD. Format 3D dari projector DLP 3D ready adalah “page flipping” artinya gambar kiri dan kanan bergantian 120 hz.

      Untuk lebih jelasnya dapat dibaca pada artikel ini atau googling dng kata kunci 3D adapter.
      http://3dvision-blog.com/the-optoma-3d-dlp-projector-adapter-3d-xl-is-coming-in-january/

      salam.

  6. Dhimas Satria Darma mengatakan:

    Untuk RealD 3D, rasanya saya belum nemu untuk home cinema, yang pake single projector… semua solusi yang saya temukan adalah sistem dual projector. Dimana masing2 projector menggunakan polarizer yg berbeda, satu untuk mata kiri dan satu untuk mata kanan.

    (Hints: polarizer bisa diambil dari kacamata passive yg dipotong jadi 2)

    Rasanya, untuk home cinema, lebih affordable pakai dual-projector… Karena masih langka sistem projector yang secara native mengusung circular polarized 3D.

    Sedangkan untuk bioskop hanya menggunakan 1 projector, dimana di-install peripheral tambahan untuk meng-alternate polarizer untuk kanan n kiri. (alat ini ga dijual untuk publik)

    Jadi, misalnya anda hanya punya satu home projector yg (3D-ready). Hanya Field-Sequential yg bisa dipakai untuk menikmati stereoscopic 3D. >> (120 Hz capable projector)

    Sedangkan untuk teknologi RealD 3D, dibutuhkan 2 home projector, dan masing2 projector dipasang polarizer yg berbeda (untuk mata kanan & kiri).

    Tolong dikoreksi kalo salah…

    Kalo Anaglyph sih udah dari jaman jebot, ngapain ngebahas yg udah ratusan tahun ada… bukan hal baru..

    • iful3d mengatakan:

      Pedapat saya sih, anaglyph itu seperti halnya foto hitam putih, Walaupun sekarang sdh di zaman fotografi digital, seni foto hitam putih (baik dng film celluoid ataupun digital) tetap punya segmen tersendiri, tetep diminati dan diapresiasi sbg karya seni.

      Begitu juga dng anaglyph, coba aja melihat group anaglyph http://tech.groups.yahoo.com/group/anaglyphs/
      Posting2 ngga pernah kering untuk membahas dan menggali foto 3D anaglyph. (statistic posting rata2 dari 500 hingga 1500 posting perbulan). Dengan keterbatasan pada teknik anaglyph, hasil karya di group ini acap kali memukau.

      Oya, anaglyph satu2 teknik melihat gambar 3D pada kertas biasa (print)……dan murah🙂

  7. Firman Adryansyah mengatakan:

    Pak, saya mau tanya.. Mengenai efek Pop-out pada film 3D yang digandrungi masyarakat dan saya tentunya. Apakah ada bedanya antara kacamatanya si Dolby 3D dgn si RealD 3D? Apakah kacamata juga berimbas pada efek Pop-out yg disuguhkan film 3D? Kalau memang iya, kira2 kacamata manakah yg memiliki kualitas efek Pop-out terbaik? Dolby 3D atau RealD 3D? Terima kasih..

  8. iful3d mengatakan:

    Dear Mas Firman,

    Mengenai efek “pop-out” dalam film 3D, sebaiknya membaca informasi di tutorial di web ini, terutama bagaimana citra “kedalaman” dapat dihasilkan dari teknik stereoskopis:

    https://gambar3dimensi.wordpress.com/about/prinsip-sederhana-foto-stereoskop/

    Intinya, efek pop-out tidak tergantung dng sistem presentasi (pada saat proyeksi dan kacamata atau viewer 3D lainnya) atau saat pertunjukan film/gambar 3D, melainkan ditentukan pada saat proses awal dan editing, yaitu pengambilan gambar stereo dan editing gambar stereo.

    hal yg penting dlm proses pembuatan gambar stereo [3D]:

    – saat pengambilan gambar, yaitu stereobase; jarak sumbu antara dua lensa antara kamera kiri dan kanan. ini yg akan menentukan paralax gambar.

    – saat editing: menentukan besar disparity. tahap inilah frame gambar stereo dikoreksi dan dioptimalkan dengan memperhatikan disparity (seberapa besar jarak gambar berbayang).

    – saat presentasi, memastikan tidak ada “ghosting” –> gambar yg masih tercampur, ketika penonton memakai kacamata 3D. Kacamata 3D berfungsi memilah gambar kiri dan kanan sesuai dng mata kita (mata kiri hanya melihat gambar kiri yg direkam oleh kamera kiri dan sebaliknya).

    Jadi pertanyaannya yg tepat adalah sistem manakah yg terbaik dalam memilah gambar stereoskopis pada layar bioskop?
    RealD 3D atau Dolby 3D?
    Jawabannya: tergantung optimalisasi yg dilakukan pihak bioskop atas perangkatnya (mulai dari projector, layar hingga kacamata).
    Yg jelas, kedua sistem sama-sama menunjukkan superioritasnya dalam memfilter gambar disparity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: